Laman

Rabu, 07 Desember 2011

Latar Belakang Perlunya Biogas


Kenaikan harga minyak dunia yang cukup signifikan hingga mencapai 115 dollar/barel, turut menyebabkan kenaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada APBN tahun 2009, 2010, bahkan 2011 sekarang. Kenaikan harga yang cukup luar biasa tersebut juga menimbulkan kelangkaan bahan bakar minyak di Indonesia. Untuk mengatasi masalah energi tersebut, pemerintah mengajak masyarakat secara bersama-sama melakukan penghematan energi. (Surabaya Post Online, 2011)
Program penghematan energi nasional yang telah dicanangkan oleh pemerintah telah berhasil menurunkan pengeluaran negara terutama subsidi pada listrik dan BBM. Selain untuk menurunkan pengeluaran negara, penghematan energi harus dilakukan karena pasokan bahan bakar berasal dari minyak bumi merupakan sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable), sehingga apabila terus dipakai bahan bakar tersebut akan habis.
Salah satu jalan untuk melakukan penghematan BBM adalah dengan mencari sumber energi alternatif terutama yang dapat diperbarui (renewable). Sebagai contoh, potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi adalah batu bara, panas bumi, aliran sungai, angin, matahari serta sumber – sumber lain yang berasal dari tumbuh – tumbuhan seperti pohon jarak, dan energi biogas yang berasal dari limbah industri makanan.
Di Indonesia salah satu industri makanan yang cukup banyak adalah industri pembuatan tahu yang setiap harinya menghasilkan sisa produksi berupa limbah cair maupun limbah padat. Limbah ini tidak dimanfaatkan secara maksimal sehingga hanya dibuang saja ke lingkungan. Pembuangan limbah ini mempunyai akibat yang cukup membahayakan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain aromanya yang kurang enak, pembuangan limbah ini juga bisa menjadi tempat munculnya berbagai bibit penyakit, pengaruh efek rumah kaca, merusak keindahan lingkungan dan akibat-akibat lainnya.
Jumlah industri tahu di Indonesia mencapai 84.000 unit usaha. Dengan kapasitas produksi lebih dari 2,56 juta ton per tahun, industri tahu ini memproduksi limbah cair dan padat sebanyak 20 juta meter kubik per tahun dan menghasilkan emisi sekitar 1 juta ton CO2 ekivalen. (Kementrian Ristek, IPAL 2010)
Limbah tahu masih mengandung bahan-bahan organik yang memiliki nutrisi yang cukup baik untuk pertumbuhan bakteri metanogenik. Adanya bakteri metanogenik di dalam reaktor dapat menyebabkan terjadinya proses metanogenesis yang dapat menghasilkan gas metana. Gas metana yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif yang dapat diperbaharui dan juga dapat mengurangi dampak pemanasan global. Gas metana inilah yang disebut sebagai biogas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar